LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR EMBRIO

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI
“KULTUR EMBRIO”

 

 

 

Oleh    :

Nama               : Burhan Setia Budi
NIM                : 115040200111052
Kelompok       : Kamis, 09.15 WIB
Asisten            : Muhammad Arif

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


 

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1.            LATAR BELAKANG

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang pertanian, para peneliti pertanian mulai mengembangkan penanaman dengan menggunakan bagian dari jaringan tanaman dengan memanfaatkan sifat jaringan yang mengalami totipotensi. Bedanya disini adalah penanaman bukan mengguunakan media tanah atau media tanam lain yang lazim digunakan. Penanaman dilakukan dengan menggunakan media agar-agar dan unsur hara makro dan mikro yang ditambahkan kedalam media. Media tersebut harus benar-benar steril untuk didapatkan pertumbuhan yang optimal dan bukannya pertumbuhan kontaminan. Dalam metode kultur jaringan dikenal berbagai jenis kultur yang digunakan diantaranya adalah kultur organ.

Dalam ilmu fisiologi terdaapat berbagai jenis kultur diantaranya adalah kultur organ, kultur embrio, dan kultur anther. Kultur organ daun digunakan untuk studi deferensiasi dan fungsi dari jaringan khusus. Kebutuhan nutrisi dan keadaan lingkungan dapat di eksplorasi secara lebih tepat dalam kultur In Vitro. Eksplan yang sering digunakan untuk perbanyakan tanaman cocor bebek secara in vitro adalah bagian daun, karena mitosis pada sel-sel yang berkesinambungan sehingga ekstra duplikasi DNA dapat dihindari.

Kultur embrio merupakan kultur yang menggunakan embrio yang diperoleh dari benih suatu tanaman yang diambil embrionya. Embrio tersebut di tanam pada media kultur untuk mengintensifkan pertumbuhan embrio tersebut. Dalam laporan praktikum ini akan di bahas mengenai kultur embrio dan cara pelaksanaan dalam pembuatan kultur embrio.

 

 

1.2.            TUJUAN

–       Untuk mengetahui teknik dan cara melakukan kultur organ.

–       Untuk mengetahui tahapan-tahapan dan proses dalam megkultur organ.

–       Untuk memahami apa itu kultur organ.

 

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.            MORFOLOGI KACANG TANAH DAN BIJI ANGGREK

2.1.1.      Tanaman Kacang Tanah

  1. Akar
    Sistem akar merupakan akar tunggang yang telah berkembang menjadi baik dengan banyak akar-akar lateral, tidak memiliki rambut akar, dan memiliki bintil akar untuk mengikat nitrogen.
  2. Berbentuk cabang percabangan terdiri dari dua jenis yaitu dengan cabang vegetatif dan cabang reproduktif. Cabang vegetatif dicirikan dengan adanya daun sisik yang disebut katofil yang terdapat pada 2 buku pertama pada cabang. Cabang vegetatif sekunder dan tertier dapat berkembang dari cabang vegetatif primer.
  3. Daun pada batang utama tersusun spirat, pada cabang vegetatif primer tersusun berseling, berdaun 4, dengan 2 pasang daun duduk berhadapan berbentuk membundar telur sungsang berukuran 3 – 7 cm x 2 – 3 cm, panjang tangkai daun 3 – 7 cm, terdapat bagian yang menggembung pada dasar tangkai daun pada dasar setiap daun. Hal ini merupakan ciri adanya pergerakan pada malam hari yaitu tangkai daun akan menggulung ke bawah dan daun akan menggulung ke atas sampai keduanya bersentuhan.
  4. Cabang perbungaa berbentuk tunggal pada katafil dan ketiak daun pada cabang vegetatif dan ada beberapa yang tumbuh pada buku teratas pada batang. Pada setiap perbungaan terdapat 2 – 5 bunga, bunga duduk berwarna kuning muda hingga jingga kemerahan.
  5. Buah polong berbentuk silindris, berisi 1 – 6 biji buah yang siap dipanen memiliki ciri warna coklat kehitam-hitaman.
  6. Setiap biji diliputi oleh selaput biji tipis berwarna antara putih hingga merah muda, merah, ungu, coklat kemerahan dan sedikit kecoklatan. Setiap biji memiliki dua keeping biji yang lebar, epikotil dengan daun dan tunas primordial, hipokotil dan akar primer.

(Wahyu, 2012)

 

2.1.2.      Biji Anggrek

Bentuk buah anggrek berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Buah anggrek merupakan lentera atau capsular  yang memiliki 6 rusuk. Tiga diantaranya merupakan rusuk sejati dan yang tiga lainnya adalah tempat melekatnya dua tepi daun buah yang berlainan. Di tempat bersatunya tepi daun buah tadi dalam satu buah anggrek sebesar kelingking terdapat ratusan ribu bahkan jutaan biji anggrek yang sangat lembut dalam ukuran yang sangat kecil. 

Biji-biji anggrek tidak memiliki endosperm sebagai cadangan makanan , sehingga untuk perkecambahannya dibutuhkan nutrisi yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan biji. Perkecambahan di alam sangat sulit jika tanpa bantuan fungi (jamur) yang disebut mikoriza  yang bersimbiosis dengan biji-biji anggrek tersebut. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai, hifa atau benang dari mikoriza akan menembus embrio anggrek melalui sel-sel suspensor. Kemudian fungi tersebut dicerna sehingga terjadi pelepasan nutrisi sebagai bahan energi yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan perkecambahan biji-biji anggrek.

(Filaha, 2012)

2.2.            KONDISI OPTIMUM UNTUK TUMBUH KACANG TANAH DAN ANGGREK

  1. Kacang Tanah

Kacang tanah (Arachis Hypogaea L) memerlukan iklim yang lebih panas dibandingkan tanaman kedelai atau jagung. Suhu harian antara 25 hingga 350C tanaman kacang tanah tumbuh lambat, umurnya lebih lama, dan hasilnya kurang. Kelembaban udara yang tinggi (lebih dari 80%) kurang menguntungkan bagi pertumbuhan kacang tanah (Arachis Hypogaea), karena akan memberikan lingkungan yang sangat baik bagi pertumbuhan penyakit bercak daun dan karat. Tanah yang terlalu lembap di samping menghambat pertumbuhan tanaman, juga mendorong pertumbuhan cendawan pembusuk akar. Tanaman kacang tanah (Arachis Hypogaea L) termasuk tanaman strata A, yakni tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh (100 %). Adanya naungan yang menghalangi sinar matahari lebih dari 30% akan menurunkan hasil. Tanaman yang ternaungi tumbuh memanjang batangnya lemah, bunga dan polong yang terbentuk sangat sedikit.

Tanaman kacang tanah (Arachis Hypogaea)  memerlukan tanah yang strukturnya ringan, berdrainase baik, dan cukup unsur hara NPK, Ca dan unsur mikro. Tanah yang bertekstur lempung-berpasir, pasir-berlempung sangat cocok untuk kacang tanah. Tingkat kemasaman tanah yang optimal untuk pertumbuhan kacang tanah (Arachis Hypogaea)  adalah  antara pH = 6 hingga 6,5. Kacang tanah termasuk tanaman yang paling toleran terhadap tanah masam dibandingkan tanaman yang lainnya yang termasuk polong-polngan. Tanaman kacang tanah (Arachis Hypogaea) mampu hidup pada tanah yang kurang subur, sedikit masam, dan juga agak kering. Oleh karena itu kacang tanah mempunyai daerah adaptasi yang cukup luas.                                         

(Wahyu, 2012)

  1. Anggrek

Angin dan curah hujan tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman anggrek. Sinar matahari sangat dibutuhkan sekali bagi tanaman ini. Kebutuhan cahaya berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman anggrek. Ada yang memerlukan intensitas penyinaran penuh, ada juga yang tidak penuh alias memerlukan naungan. Kebutuhan cahaya berdasarkan jenis anggrek, yakni antara lain: Arachnis Maggie Oei butuh 100% intensitas penyinaran, Arachnis Apple Blossom butuh 100% intensitas penyinaran, Renanthera Hybrid butuh 100% intensitas penyinaran, Vanda pensil dan vanda quarter butuh 100% intensitas penyinaran, Dendrobium butuh 50-65% intensitas penyinaran, Aranda Hybrid butuh 50-65% intensitas penyinaran, Oncidium Hybrid butuh 60-75% intensitas penyinaran, Vanda berdaun lebar butuh 20-30% intensitas penyinaran, Phalaenopsis Hybrid butuh 10-15% intensitas penyinaran, dan Cattleya Hybrid butuh 20-30% intensitas penyinaran.

 Suhu minimum untuk pertumbuhan anggrek adalah 15 derajat C dan suhu maksiumnya adalah 28 derajat C. Jika suhu udara malam berada di bawah 13 derajat C, maka daerah tersebut tidak dianjurkan untuk ditanam anggrek (di dataran tinggi Dieng). Berdasarkan kebutuhan suhu, tanaman anggrek dibedakan menjadi tiga tipe, yakni: 1) Anggrek tipe dingin, membutuhkan suhu siang sekitar 18-21 derajat C. Anggrek yang termasuk dalam tipe ini adalah Cymbidium sp. dan Miltona sp. 2) Anggrek tipe sedang, membutuhkan suhu siang sekitar 21-24 derajat C, dan suhu malam sekitar 18-21 derajat C. Anggrek yang termasuk tipe ini adalah Dendrobium sp. dan oncidium sp. 3) Anggrek tipe hangat, membutuhkan suhu siang sekitar 24-29 derajat C dan suhu malam 21-24 derajat C. Anggrek yang termasuk dalam tipe ini adalah Vanda sp., Arachnis sp., dan Renanthera sp.

Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.

Media untuk anggrek epifit dan semi epifit terdiri dari: serat pakis yang telah digodok, kulit kayu yang dibuang getahnya, serabut kelapa yang telah direndam air selama 2 minggu, ijuk, potongan batang pohon enau, arang kayu, pecahan genting/batu bata, bahan-bahan dipotong menurut ukuran besar tanaman dan akarnya. Untuk anggrek semi epifit yang akarnya menempel pada media untuk mencari makanan, perlu diberi makanan tambahan seperti kompos, pupuk kandang/daun-daunan. Media untuk anggrek terrestria : Jenis anggrek ini hidup di tanah maka perlu ditambah pupuk kompos, sekam, pupuk kandang, darah binatang, serat pakis dan lainnya. Media untuk anggrek semi terrestria : Bahan untuk media anggrek ini perlu pecahan genteng yang agak besar, ditambah pupuk kandang sekam/serutan kayu. Dipakai media pecahan genting, serabut kayu, serat pakis dan lainnya.

Ketinggian tempat yang cocok bagi budidaya tanaman ini dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu: Anggrek panas (ketinggian 0-650 m dpl) : Anggrek panas memerlukan suhu udara 26-30 derajat C pada siang hari, 21 derajat C pada malam hari, dengan daerah ketinggian 0-650 meter dpl. Contoh jenis anggrek ini adalah: Dendrobium phalaenopsis, Onchidium Papillo, dan Phaphilopedillum Bellatum. Anggrek sedang (ketinggian 150-1500 m dpl) : Anggrek sedang pada suhu udara siang hari 21 derajat C dan 15–21 derajat C,pada malam hari, dengan ketinggian 150-1500 m dpl. Anggrek dingin (lebih dari 1500 m dpl) : Anggrek dingin jarang tumbuh di Indonesia, tumbuh baik pada suhu udara 15-21 derajat C di siang hari dan 9–15 derajat C pada malam hari, dengan ketinggian = 1500 m dpl. Contoh: anggrek jenis Cymbidium.
                                                                         (Filaha, 2012)

2.3.            TEKNIK KULTUR EMBRIO KACANG TANAH DAN EMBRYO RESQUE BIJI ANGGREK

Teknik embryo culture dan embryo rescue pada dasarnya melibatkan 3 tahapan, yaitu:

1). Sterilisasi eksplan

Embrio pada prinsipnya berada dalam keadaan steril. Hal ini disebabkan karena embrio berada di dalam buah (di dalam biji) terlindung oleh jaringan-jaringan buah dan biji yang berada di luar embrio, antara lain oleh kulit buah, daging buah dan kulit biji. Keadaan ini menyebabkan sterilisasi embrio tidak perlu dilakukan. Sterilisasi permukaan perlu dilakukan pada buah ataupun biji untuk mensterilkan permukaan buah/biji sehingga pada waktu isolasi embrio tidak terdapat sumber kontaminan. Karena embrio berada di dalam, sterilisasi dapat dilakukan dengan pembakaran buah/biji atau dengan sterilan kimia seperti sodium hypochlorite dengan konsentrasi cukup tinggi (>2 %).

2). Isolasi dan penanaman embrio

Seringkali masalah timbul saat isolasi embrio terutama untuk embrio berukuran kecil sehingga isolasinya harus dilakukan di bawah mikroskop. Untuk embrio berukuran besar, isolasi embrio tidak menjadi masalah. Isolasi harus dilakukan secara hati-hati agar embrio tidak rusak dan kehilangan salah satu atau lebih bagian-bagiannya (radicula, plumula, hypocotil, coleoptyl, dll). Selain itu harus tetap dijaga juga agar isolasi dilakukan dalam kondisi tetap aseptis. Embrio yang telah diisolasi selanjutnya ditanam pada media yang telah dipersiapkan.

Media untuk pengecambahan embrio cukup sederhana. Kebutuhan nutrisi di dalam media untuk pengecambahan embrio juga lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk tujuan teknik kultur yang lain. Pada prinsipnya media diperlukan untuk menggantikan peranan endosperm dalam mendukung perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat embrio yang ditanam umumnya telah memiliki radicula dan plumula. Media yang umum digunakan untuk pengecambahan embrio adalah media Knudson dan Vacin & Went (untuk anggrek), Media MS dalam ½ konsentrasi garam-garamnya. Dalam pengecambahan embrio dewasa umumnya vitamin tidak ditambahkan dalam media, namun sumber karbon tetap diperlukan meskipun dalam konsentrasi yang lebih rendah (umumnya 20 g/l). Akan tetapi, dalam pengecambahan embrio muda diperlukan media yang lebih kompleks. Perkembangan embrio muda perlu didukung pada awalnya sehingga radicula dan plumula dapat berkembang sempurna sebelum embrio ini berkecambah. Untuk itu, nutrisi yang lebih lengkap beserta vitamin seperti nicotinic acid, biotin, vitamin C, vitamin B perlu ditambahkan pada media kultur embrio muda ini. Hormon tanaman umumnya tidak ditambahkan dalam media kultur embrio karena penambahan hormon tanaman kemungkinan dapat merangsang terbentuknya kalus pada embrio. Kalus umumnya tidak diinginan pada kultur embrio mengingat tujuan kulturnya adalah untuk merangsang perkecambahan embrio. Pada beberapa kasus, terutama untuk embrio muda atau embrio yang mengalami dormansi, penambahan giberellin dalam media kultur dapat dilakukan. Untuk pengecambahan embrio umumnya digunakan media padat sehingga agar pada konsentrasi 0,8 sampai 1,6 % ditambahkan ke dalam media. Media cair kadangkala diperlukan untuk pengecambahan, misalnya pada embrio kelapa. Kondisi pengecambahan ini memodifikasi kondisi alamiah perkecambahan buah kelapa dimana nutrisi tersedia dari endosperm yang cair yaitu berupa air kelapa. Apabila media cair digunakan untuk pengecambahan, umumnya kultur ditempatkan di atas shaker (alat penggojok) untuk menghindari kekurangan oksigen pada eksplan yang dapat menyebabkan eksplan mati.

3). Aklimatisasi

Aklimatisasi dilakukan setelah embrio berkecambah dan diperoleh plantlet yang siap untuk dipindahkan ke lapangan. Teknik aklimatisasi untuk plantlet hasil regenerasi kultur embrio pada prinsipnya sama dengan aklimatisasi plantlet hasil regenerasi dari teknik kultur jaringan lainnya. Selain kultur embrio dan embrio rescue,terdapa pula beberapa tipe – tipe kultur lain ,yaitu: kultur kalus, kultur meristem,kultur suspensi sel, kultur protoplas, kultur anther dan pollen, dan kultur spora paku.

(Sofia, 2007)

2.4.            CONTOH APLIKASI KULTUR EMBRIO

Saat ini teknik kultur jaringan digunakan bukan hanya sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek fisiologi dan biokimia tanaman saja. Akan tetapi sudah berkembang menjadi metoda untuk berbagai tujuan seperti:

a. Mikropropagasi (Perbanyakan tanaman secara mikro)

 Teknik kultur jaringan telah digunakan dalam membantu produksi tanaman dalam skala besar melalui mikropropagasi atau perbanyakan klonal dari berbagai jenis tanaman. Jaringan tanaman dalam jumlah yang sedikit dapat menghasilkan ratusan atau ribuan tanaman secara terus menerus. Teknik ini telah digunakan dalam skala industri di berbagai negara untuk memproduksi secara komersial berbagai jenis tanaman seperti tanaman hias (anggrek, bunga potong, dll.), tanaman buah-buahan (seperti pisang), tanaman industri dan kehutanan (kopi, jati, dll). Dengan menggunakan metoda kultur jaringan, jutaan tanaman dengan sifat genetis yang sama dapat diperoleh hanya dengan berasal dari satu mata tunas. Oleh karena itu metoda ini menjadi salah satu alternatif dalam perbanayakan tanaman secara vegetatif.

b. Perbaikan tanaman

      Seperti telah diketahui bahwa dalam usaha perbaikan tanaman melalui metoda pemuliaan secara konvensional untuk mendapatkan suatu galur murni akan memerlukan enam atau tujuh generasi hasil penyerbukan sendiri maupun persilangan. Melalui teknik kultur jaringan, antara lain dengan cara memproduksi tanaman haploid melalui kultur polen, antera atau ovari yang diikuti dengan penggandaan kromosom, akan mempersingkat waktu untuk mendapatkan tanaman yang homozigot.

c. Produksi tanaman yang bebas penyakit (virus)

      Teknologi kultur jaringan telah memberikan kontribusinya dalam mendapatkan tanaman yang bebas dari virus. Pada tanaman yang telah terinfeksi virus, sel-sel pada tunas ujung (meristem) merupakan daerah yang tidak terinfeksi virus. Dengan cara mengkulturkan bagian meristem pada media kultur yang cocok akan diperoleh tanaman yang bebas virus. Teknik ini telah banyak digunakan dalam memproduksi berbagai tanaman hortkultura yang bebas penyakit.

d. Transformasi genetik

      Teknik kultur jaringan telah menjadi bagian penting dalam membantu keberhasilan rekayasa genetika tanaman (transfer gen). Sebagai contoh transfer gen bakteri (seperti gen cry dari Bacillus thuringensis) kedalam sel tanaman akan terekspresi setelah regenerasi tanaman transgeniknya tercapai.

e. Produksi senyawa metabolit sekunder

      Kultur sel-sel tanaman juga dapat digunakan untuk memproduksi senyawa biokimia (metabolit sekunder) seperti alkaloid, terpenoid, phenyl propanoid dll. Teknologi ini sekarang sudah tersedia dalam skala industri. Sebagai contoh produksi secara komersial senyawa “shikonin” dari kultur sel Lithospermum erythrorhizon.

(Zulkarnain, 2009)

2.5.            FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN KULTUR EMBRYO DAN EMBRYO RESQUE

Faktor yang mempengaruhu keberhasilan  kultur embrio adalah:

  1. Genotipe

Pada suatu spesies, embrio mudah diisolasi dan tumbuh, sementara pada tanaman lain agak lebih susah.

  1.  Tahap (stage) embrio diisolasi

Pada tahapan yang lebih besar (lebih tinggi) lebih baik bila dilakukan pengisolasian embrio.

  1. Kondisi tumbuhan

Sebaiknya ditumbuhkan di rumah kaca/ kondisi terkontrol. Embrio harus cukup besar dan berkualitas tinggi.

  1. Kondisi media

Hara makro dan mikro

pH 5.0 – 6.0c. Sukrosa sebagai sumber energi. Embrio yang belum matang perlu 8–12%,embrio matang perlu 3% Auksin dan sitokinin tidak diperlukan. GA diperlukan untuk memecahkan dormansi

  1. Vitamin (optional)

Senyawa organik (opt), air kelapa, casein hydrolisate, glutamin (penting)

  1. Lingkungan

Oksigen (perlu oksigen tinggi). Cahaya : kadang embrio perlu ditumbuhkan dalam gelap selama 14 hari,kemudian ditransfer ke cahaya untuk merangsang sintesa klorofil. Suhu : kadang perlu perlakuan dingin (vernalisasi, 40°C) untuk memecah dormansi

(Yusnita, 2004)

 

 

BAB III
BAHAN DAN METODE

 

3.1. ALAT DAN BAHAN

a. Alat
Pisau potong   : untuk memotong kotiledon kacang tanah
Pinset  besar    : memegang biji kacang tanah saat pemotongan
Pinset kecil      : menanam embrio kacang tanah pada media kultur
LAFC              : tempat penanaman eksplan embrio kacang tanah
Botol semprot : tempat alcohol
Bunsen            : membakar dan menyeterilkan mulut botol kaca
Cawan Petri    : tempat meletakkan hasil embrio yang telah di buka dari biji

b. Bahan
Botol kaca yang telah diisi media kultur MS  : media pertumbuhan embrio
Spirtus : bahan bakar Bunsen
Biji Kacang tanah       : bahan yang akan di ambil embrionya

3.2. CARA KERJA

Menyediakan alat dan bahan yang dibutuhkan

 

Meletakkan biji kacang tanah pada cawan petri

 

Biji kacang tanah di ambil embrionya dengan menggunakan pinset dan pisau potong

 

Botol dibuka disebelah Bunsen dengan tepi botol dibakar

 

Embrio di tanam pada media kultur (1 botol 3 embrio)

 

Botol di tutup kembali dengan Aluminium foil / Plastik

 

Botol ditempatkan pada ruang inkubasi

 

3.3. ANALISA PERLAKUAN

Dalam praktikum ini di perlukan alat-alat diantaranya adalah LAFC, Bunsen, pinset besar, pnset kecil, pisau potong, botol semprot dan cawan petri. Bahan yang perlu di siapkan adlah botol kaca yang telah berisi media MS (siap pakai), bji kacang tanah, alcohol dan spirtus. Tahap pertama adalah sterilasisai alat dengan menggunakan alcohol. Lalu biji kacang tanah dibuka untuk diambil embrionya. Membuka botol kaca di dalam LAFC dan di dekatkan dengan Bunsen. Embrio kacang tanah tersebut ditanam dalam media MS. Lalu ditutup kembali dengan menggunakan aluminium foil atau plastic. Setelah selesai penanaman pada media MS, botol diletakkan pada ruang inkubasi.

 

 

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1. HASIL

Pengamatan pertama hari Senin, 6 November 2012

Botol

Gambar

Kondisi ekspan

Jenis kontaminan

Keterangan pertumbuhan

1

 

 

Masih segar

Tidak ada kontaminan

Sudah tumbuh tunas

2

 

 

Masih segar

Tidak ada kontaminan

Mulai tumbuh tunas

3

 

 

Masih segar

Tidak ada kontaminan

Belum tumbuh tunas

4

 

 

Masih segar

Tidak ada kontaminan

Mulai tumbuh tunas

5

 

 

Masih segar

Tidak ada kontaminan

Mulai tumbuh tunas

 

 

 

 

 

 

Pengamatan ke-2, hari Rabu 28 November 2012

Botol

Gambar

Kondisi ekspan

Jenis kontaminan

Keterangan pertumbuhan

1

 

 

 

Eksplan tetap segar dan tumbuh tunas

Tidak ada kontaminan

Sudah tumbuh tunas semuanya

2

 

 

Eksplan tetap segar dan tumbuh tunas

Tidak ada kontaminan

Tunas sudah tumbuh, dari 3 embrio yang tumbuh 2 embrio

3

 

Eksplan tidak tumbuh tunas

Terkontaminasi bakteri

Tidak muncul tunas, dan terkontaminasi bakteri sebab terdapat lender pada media kultur

4

 

 

 

Eksplan tumbuh tidak terbalik

Terkontaminasi jamur, terdapat hifa berwarna putih

Tunas tumbuh semua dan terkontaminasi jamur, terdapat hifa jamur berwarna putih

5

 

 

Eksplan tumbuh 2, tidak terbalik

Terkontaminasi jamur, terdapat hifa berwarna putih

Tumbuh tunasnya, tetapi terkontaminasi jamur sebab pada media terdapat hifa berwarna putih

 

Pengamatan ke-3, hari Kamis 29 November 2012

Botol

Gambar

Kondisi ekspan

Jenis kontaminan

Keterangan pertumbuhan

1

 

Eksplan sudah tumbuh tunas, tunas terbalik pertumbuhannya

Tidak ada kontaminan

Tunas tumbuh terbalik, dan tidak ada kontaminan

2

 

Eksplan sudah tumbuh tunas, tunas terbalik pertumbuhannya

Tidak ada kontaminan

Tunas tumbuh 2 terbalik, dan tidak ada kontaminan

3

 

Eksplan mati

Terkontaminasi bakteri, pada media kultur terdapat lendir

Tunas tidak tumbuh dan terkontaminasi bakteri

4

 

Eksplan tumbuh semua, tidak terbalik

Terkontaminasi jamur

Tunas tumbuh, terkontaminasi jamur

5

 

Eksplan tumbuh 2

Terdapat kontaminan jamur (ada hifa pada media kultur), dan bakteri (terdapat lendir)

Tunas tumbuh 2, dan terkontaminasi jamur dan bakteri

 

Pengamatan ke-4 hari Jumat 30 November 2012

Botol

Gambar

Kondisi ekspan

Jenis kontaminan

Keterangan pertumbuhan

1

 

Eksplan tumbuh semua, terbalik pertumbuhannya

Tidak ada kontaminan

Tunas tumbuh terbalik

2

 

Eksplan tumbuh 2, terbalik pertumbuhannya

 

Tidak ada kontaminan

Tunas tumbuhnya terbalik

3

 

 

 

 

 

Eksplan mati

Terkontaminasi bakteri

Tunas mongering dan mati, terkontaminasi bakteri

4

 

 

 

 

 

Eksplan tumbuh tapi mulai layu

Terkontaminasi jamur

Eksplan tumbuh tapi mulai layu

5

 

 

 

 

 

Eksplan tumbuh tapi mulai layu

Terkontaminasi jamur dan bakteri

Pertumbuhan tunas terhenti karena sudah terkontaminasi jamur dan bakteri

 

4.2. PEMBAHASAN

Pada pengamatan pertama yang dilakukan pada senin 6 November 2012 didapatkan hasil sebagai berikut : Pada botol pertama kondisi eksplan masih terlihat segar, untuk pertumbuhan tunasnya masih mulai tumbuh. Pada botol kedua kondisi eksplan masih terlihat segar, untuk pertumbuhan tunasnya masih mulai tumbuh. Pada botol ketiga kondisi eksplan masih terlihat segar, untuk pertumbuhan tunasnya belum mulai tumbuh. Pada botol keempat kondisi eksplan masih terlihat segar, untuk pertumbuhan tunasnya masih mulai tumbuh. Pada botol kelima kondisi eksplan masih terlihat segar, untuk pertumbuhan tunasnya masih mulai tumbuh.
            Pada pengamatan kedua dilakukan pada Rabu, 8 November 2012. Pada pengamatan tersebut didapatkan hasil sebagai berikut. Pada botol pertama kondisi eksplan tetap segar, tidak terdapat kontaminan baik pada media kultur ataupun pada embrionya dan mulai tumbuh tunas. Kondisi pada botol kedua, kondisi eksplannya masih segar, dan sudah tumbuh 2 tunasnya, serta tidak terdapat kontaminan pada media ataupun eksplannya. Pada botol ketiga, kondisi eksplannya tidak tumbuh, dan pada media kulturnya terdapat kontaminas bakteri dengan ciri terdapat lendir putih pada media kulturnya, dan berbau busuk. Pada botol keempat eksplan tumbuh semua dan penanamanya tidak terbalik, tetapi terdapat kontaminan berupa jamur dengan cirri-ciri terdapat hifa berwarna putih. Pada botol kelima eksplan tumbuh 2, dan yang satu belum tumbuh, terdapat kontaminan berupa jamur (terdapat hifa).
            Pengamatan ketiga di lakukan pada Kamis, 29 November 2012. Padaa botol pertama kondisi eksplan sudah tumbuh agak panjang, tetapi tumbuhnya terbalik karena salah pada saat penanaman, jumlah eksplan yang tumbuh ada 3 tanaman, dan tidak terdapat kontaminasi pada eksplan ataupun pada media kultur. Pada botol kedua kondisinya sama seperti pada botol pertama yaitu salah perlakuan pada saat penanaman eksplan di media kultur, jumlah eksplan yang tumbuh ada 2 tanaman dan tidak terdapat kontaminasi. Botol ketiga kondisi eksplannya mati, dan terdapat kontaminasi bakteri (media kultur terdapat lendir berwarna putih dan berbau). Pada botol keempat eksplan tumbuh 3 tanaman dan tidak terbalik, tetapi terdapat kontaminan yaitu berupa jamur pada media kultur. Pada botol kelima kondisi eksplan masih tumbuh, tetapi hanya 2 tanaman yang tumbuh dan terdapat kontaminan jamur dan bakteri, pada awalnya kontaminan hanya jamur saja tetapi setelah beberapa hari baru muncul bakteri.
            Pengamatan ke-4 dilakukan pada hari Jum’at tanggal 30 November 2012. Pada pengamatan terakhir ini hanya terdapat dua botol yang berhasil bertahan. Yaitu pada botol pertama dan kedua, pada botol pertama jumlah eksplan yang berhasil tumbuh ada 3 tanaman, dan pada botol kedua eksplan yang berhasil tumbuh ada 2 tanaman serta pada kedua botol tersebut tidak ditemukan adanya kontaminan. Tetapii kondisi tanaman pada botol pertama dan kedua terbalik karena penanaman eksplan yang terbalik. Untuk botol ketiga dari awal eksplan tidak tumbuh dan terkontaminasi bakteri. Pada botol ke empat eksplan masih tumbuh dan mulai layu karena terknotaminasi jamur, hal itu sama pada botol keliama yaitu eksplan masih tumbuh dan mulai layu karena terkontaminasi jamur dan bakteri.

 

4.3.PEMBAHASAN TENTANG PERTUMBUHAN KULTUR EMBRYO

 

Pada kultur embrio hasilnya yang berhasil ada 2 botol. Ke tiga botolyang lain gagal dikarenakan terkontaminasi oleh jamur dan bakteri. Selain itu persilangan antarspesies, umur embrio saat dikulturkan sangat mempengaruhi keberhasilan persilangan, mengingat embrio yang gugur sangat tinggi dan hal ini tidak dapat diduga sebelumnya. Pada penelitian ini, keguguran polong/ embrio berlangsung sejak hari pertama sampai hari ke- 21 setelah polinasi. Di lain pihak, penanaman embrio yang masih sangat muda menghadapi kendala teknis sulitnya mengisolasi embrio dari polong karena ukuran embrio sangat kecil. Selain itu, penanaman embrio yang sangat muda memerlukan formulasi media yanglebih kompleks. Penggunaan embrio yang lebih matang akan mempermudah isolasi serta formulasi media yang digunakan lebih sederhana, tetapi embrio yang gugur (embrio tidak berkecambah) akan meningkat (M. Kosmiatin dan I. Mariska)

            Pada kultur embrio, keberhasilan perkecambahan in vitro juga ditentukan oleh komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media untuk menggantikan peran endosperma. Pengecambahan embrio yang lengkap biasanya tidak memerlukan formulasi media yang rumit, bahkan pada beberapa jenis tanaman, embrio dapat tumbuh pada media dasar tanpa zat pengatur tumbuh, seperti pada embrio hasil persilangan S. khasianum dan S. capsicoides (Handayani 1995).

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1.KRITIK
Untuk praktikum kultur embrio sudah baik, tetapi ada kesalah pahaman tentang peletakan posisi embrio pada media MS. Hal tersebut tidak masalah karena yang terbalik justru yang tidak terkontaminasi, tapi untuk selanjutnya semoga tidak terulang lagi.

Pergiliran praktikan yang bekerja untuk penanaman di LAFC sangat tapat, biar semua merasakan dan mencoba pada saat penanaman eksplan. Good job.

Bahan yang untuk embrio recsue kehabisan, apakan penyediaannya sangat sedikit. Dimohon untuk alat dan bahan disediakan secara lengkap.

 

5.2.SARAN
Sarannya, semoga praktikum kedepannya lebih sukses dan berhasil.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Filaha.2012. Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Anggrek. http://euisnovitasari.blogspot.com/2011/07/morfologi-anggrek.html. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012.

Sofia, D. 2007. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Panebar Swadaya. Jakarta..

Handayani, T. 1995. Persilangan Antarjenis Solanum khasianum CLARKE dan Solanum capsicoides ALL dengan Penyelamatan Embrio dan Perlakuan Kolkisin. Tesis Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Yusnita., 2004. Kultur Jaringan Tanaman. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.

Zulkarnain., 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta. 

Wahyu.2012.Morfologi dan Syarat Tumbuh Kacang Tanah. http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/tanaman-kacang-tanah/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s